“Kita berdua hanya berpegangan tangan, tak perlu berpelukan. Kita berdua hanya saling bercerita, tak perlu memuji. Kita berdua tak pernah ucapkan maaf, tapi saling mengerti. Kita berdua tak hanya menjalani cinta, tapi menghidupi. Ketika rindu menggebu-gebu, kita menunggu, jatuh cinta itu biasa saja. Saat cemburu kian membelenggu, cepat berlalu, jatuh cinta itu biasa saja. Jika jatuh cinta itu buta, berdua kita akan tersesat, saling mencari di dalam gelap. Kedua mata kita gelap, lalu hati kita gelap, lalu hati kita gelap. Kita, jatuh cinta itu biasa saja…”
(Efek Rumah Kaca – Jatuh Cinta Itu Biasa Saja)
Kutipan diatas adalah sebuah lagu cinta, mungkin lagu cinta terbaik yang pernah saya dengar. Dengan rangka kalimat yang sederhana, saya merasa sedang mendapat sebuah kesimpulan paling logis yang bisa menetralisasi gamangnya pengertian saya akan cinta, juga aktivitas-aktivitas yang mengikutinya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa selama ini cerita romantis adalah gizi bagi banyak pribadi melankolis. Kisah cinta yang membara dan diwarnai oleh pengorbanan ekstrim, suka dan duka adalah kerangka sastra yang membuai para pembacanya. Kekuatan yang sedemikian dahsyat pun bersifat kosmis dan universal, menjadikan setiap insan yang memujanya insan‐insan pencinta. Dan tentunya tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, kadang cinta dinilai terlalu emosional sehingga manusia mengacuhkan sisi logis daripada cinta itu sendiri. Jatuh cinta adalah salah satu proses kimiawi dimana reaksinya menjadi mekanisme paling substansial dalam peradaban kita. Setidaknya, bagi saya pribadi, cinta menempati ruang sendiri dalam kotak‐kotak penuh tanya dalam diri ini.
Saya pernah mengalami fase-fase dimana saya berusaha menyatukan keterkaitan emosi dengan orang lain, namun fase-fase di usia belasan itu tidak pernah membawa saya pada titik tumpu itu. Saya membutuhkan waktu cukup lama semenjak saya mengenal rasa suka sampai pada akhirnya saya merasa bahwa ya, saya sedang jatuh cinta setelah sekian lama. Sekali. Jatuh cinta yang tidak saya minta kedatangannya, disaat usia saya memasuki 23 tahun.
Seiring dengan berjalannya waktu, tanpa benar‐benar mengetahui definisi cinta, saya terpaksa mengalah pada kenyataan bahwa apa yang saya rasakan adalah percikan kekuatan kosmis yang mengiris emosi dan logika manusia. Semenjak saat itu, yang saya tahu, saya memang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta dengan individu kesekian, namun untuk pertama kali, tanpa banyak pertimbangan.
Saya mencari tahu, mencari pembenaran, mencari acuan atas degup kencang tanpa aturan setiap kali saya memandang sepasang mata teduh yang ditopang rahang wajahnya yang tajam. Saya mencari jawaban, mencari alasan, mencari sebab dari gemetarnya kaki ini saat saya berjalan disampingnya, menghitung langkah-langkahnya. Saya mencari dukungan, mencuri kemungkinan, mencuri keabsahan dari khawatir tidak karuan terhadap dirinya setiap kali kami berada dalam jarak yang berjauhan. Saya tidak keberatan dengan efek samping dari jatuh cinta, jika saja ada. Tapi saya memilih untuk mengetahui posibilitas dari banyaknya ‘kegilaan’ yang saya alami terhadapnya.
Ternyata, saat manusia memandang seseorang yang dicintainya, bagian otak yang berhubungan dengan imbalan dan kesenangan yakni bagian ventral tegmental dan caudate nucleus menyala. Secara kimiawi, perasaan ‘cinta’ menyalakan caudate nucleus karena merupakan pangkalan yang sarat dengan saraf penerima yang menyebar untuk pemancar saraf yang disebut dopamine – sebagai ramuan cinta yang tumbuh sendiri di dalam tubuh. Dalam dosis yang tepat, dopamine menciptakan kekuatan, kegembiraan, perhatian yang terpusat, serta dorongan untuk mendapat imbalan.
Inilah yang menyebabkan saat baru jatuh cinta, manusia dapat terjaga sepanjang malam, memandangi detail di sekitarnya, serta mampu melakukan hal‐hal yang biasanya terasa melampaui kemampuan kita. Hasil dari reaksi kimiawi yang dialami oleh cinta dapat membuat manusia mampu menempuh resiko besar yang kadang‐kadang tidak mungkin untuk diatasi. Benar‐benar ekstraksi yang semakin membuat saya merasa ‘tidak bersalah’ atas perasaan jatuh cinta yang pernah saya alami, walaupun baru pertama kali.
Seorang psikiatri bernama Donatella Marazitti pernah meneliti tentang adanya aspek biokimia dalam cinta. Dia mencari persamaan antara jatuh cinta dengan gangguan obsesif‐kompulsif. Penelitian ini bertumpu pada acuan komposisi serotonine dalam darah manusia yang sedang merasakan indahnya jatuh cinta selama 6 bulan terakhir dan terobsesi pada cinta minimal 4 jam sehari. Serotonine adalah bintang pemancar saraf manusia, yang saling berganti peran dengan bintang obat psikiatri sejenis Prozac, Zoloft, dan Paxil.
Mengacu pada gangguan obsesif‐kompulsif (OCD), para penderitanya disinyalir mengalami ketidakseimbangan serotonine. Obat seperti Prozac nampaknya mengurangi OCD dengan menaikkan jumlah pemancar saraf yang ada pada titik temu antarneuron. Dengan membandingkan jumlah kadar serotonine antara orang yang sedang jatuh cinta dan orang yang mengalami OCD, ternyata kadar serotonine keduanya sama‐sama 40% lebih rendah ketimbang kadar zat ini pada orang normal. Ya, penelitian tersebut memungkinkan penarikan kesimpulan bahwa cinta dan gangguan obsesif‐kompulsif memiliki ciri kimiawi yang serupa. Jelas, cinta dan gangguan jiwa mungkin sulit dibedakan. Wajar, kalau cinta bisa membuat seseorang menjadi gila.
Secara logis, bukankah wajar apa yang saya rasakan saat ini? Saya ingat bagaimana saya tidak berhenti‐berhentinya bertanya mengapa saya melakukan tindakan A dan B terhadap seseorang yang sedang saya cintai ini, sedangkan tidak pernah terpikir oleh saya untuk bisa melakukan hal tersebut, bahkan hampir kepada siapapun. Saya mulai mengerti mengapa setiap hal kecil di sekitar saya menjadi sedemikian berarti, bahkan saya mulai terbiasa dengan rasa nyeri di salah satu ruang dibelakang rusuk ini. ‘Kegilaan’ saya terhadapnya membuat saya tidak bisa tidur selama hampir satu tahun, dan selama itulah kadar serotonine ini berada di luar kemampuan saya untuk mengawalnya.
Pengawalan. Bisa jadi itu satu‐satunya kata yang tepat untuk menjadi tameng bagi cinta yang luar biasa. Mengawal perasaan cinta seperti menggembala ternak kembali pada barisannya yang teratur, sebuah sistematika yang membantu terciptanya kestabilan emosi. Bisa jadi lagi, cinta yang terkawal dengan baik adalah cinta yang membuat manusia bisa bahagia tanpa nyeri‐nyeri di dalam hati.
Dengan mendengar lagu yang sama untuk kesekian kali, mungkin benar apa yang dinyanyikan oleh Efek Rumah Kaca, bahwasanya jatuh cinta itu biasa saja. Saya suka sekali dengan lirik yang ditulis oleh mereka, dimana penggambaran indahnya jatuh cinta sangat jelas dibandingkan dengan eksploitasi cinta yang relatif berlebihan di dunia kita sekarang. Jatuh cinta telah menjadi sekte baru dalam sebuah hubungan interpersonal, dimana setiap orang dipaksa untuk mengikuti pola percintaan yang tidak mendasar: cinta adalah kambing hitam atas kecemburuan berlebihan, perselingkuhan, penggalan perasaan yang murahan, tidak lebih dari kata yang terdengar picisan.
Sebut saja bagaimana nilai mencintai dan dicintai menjadi nol ketika setiap orang berlebihan menterjemahkannya. Substansial cinta hari ini tidak lagi sama dengan substansi cinta pada zaman‐zaman dahulu. Cinta hari ini adalah komersialitas tanpa tuan yang berubah menjadi angka‐angka nominal, bukan lagi perasaan mendasar yang melapisi hati setiap jiwa. Manusia tidak lagi nyaman dengan cinta. Sebaliknya, cinta menjadi hal yang menakutkan bagi setiap manusia yang ingin berkomitmen, tetapi takut akan ketidakterkawalan cinta itu sendiri, sehingga menjadi bumerang yang berbalik menyerang. Cinta berlebihan benar‐benar membuat manusia menjadi gila pada porsinya masing‐masing.
Namun kini, setelah melewati fase jatuh cinta itu sendiri, bukankah benar bahwa jatuh cinta biasa saja? Bukankah keindahan yang ada di dalamnya lebih terasa ketika cinta berada pada posisi normal, biasa‐biasa saja? Bukankah cinta yang apa adanya menjadi luar biasa ketika dua sinergi ‘biasa’ dan ‘terkontrol’ membuat kisah romantis mereka sendiri dengan sentuhan magis untuk menciptakan cinta yang logis?
Tuhan menuliskan di lembaran kitab-Nya tentang cinta yang diselipkan sebagai bekal keleluasaan penciptaan hamba-hamba-Nya. Kesesuaian etika, keterkaitan emosi dan kerinduan satu jiwa terhadap jiwa lainnya adalah lapisan yang diciptakan untuk menjelaskan bagaimana cinta, sebagaimana hakikatnya adalah rahmat, sebaiknya senantiasa terjaga sehingga keduanya mencapai ketentraman sebagaimana yang dijanjikan.
Mungkin ada baiknya berterima kasih pada yang menitipkan cinta di setiap bilik hati manusia di dunia ini, dengan menjaga kegaiban rasa ini sebaik‐baiknya. Saya tidak mau suatu hari nanti saya tidak bisa mencintai lagi, dan bukan, bukan karena kadar dopamine yang menipis, tapi karena hilangnya kewarasan rasa yang membangkitkan reaksi kimiawi atas senyawa cinta yang ada pada manusia.
Ya, pada diri anda, dan juga saya.