“Gerobak: The Indonesian Food Cart”

Every time people ask me what’s interesting to enjoy in Jakarta, I usually say, enjoy the traffic jam (sarcastically) and (also) have a bite of local food. And of course, when they go a bit deeper about what kind of food they should try, I would recommend jajanan kota para pedagang kaki lima (snacks from street-side sellers) that exists in every corner of the city. That itself is an experience.

Pedagang kaki lima is a large part of our food culture in Indonesia where the seller usesgerobak to ply their food trade. Gerobak is a movable wooden box which contains a hot stove, complete with mini table and chairs in case the consumer wants to eat by the side of the road. It’s like a mini circus magic cart with food!

The funny thing about the term pedagang kaki lima which loosely means street-side seller but translated literally is 5-feet seller, is the fact that the seller has two legs and three other ‘legs’ from their gerobak itself (two wheels and one stand hence physically having 5 feet). Historically, this term was established during Dutch colonial times, where the government ruled that pedestrian walkways should be 5 feet in width. Years after independence, pretty much every inch of these walkways are used by sellers to sell their stuff, mainly food.

With this culture alone, I always feel it’s a cosy way to enjoy local food back home. The fact that they also roam around in residential areas makes it even easier to eat whatever you want to eat at any time, without really having to go out. All you need to do is wait for them to pass by your house, stop them and get your dishes made in front of your door! 

And in case you’re wondering how to differentiate the sellers passing by, it’s easy. Due to their marketing efforts, I found it hilarious that there are actually different sounds and colours for every gerobak. Take a look at my top three favorite gerobak- Bakso, Bubur Ayam and Nasi Goreng. They come with different knocking sounds, some of them even play cute songs not unlike an advertisement jingle. Funny! Each gerobak also diversifies their design element, in terms of the colour that they use. Nowadays they even decorate theirgerobak in all sorts of ways to be more eye-catching. 

Being far away from home, I do miss the easy access of food like this: the idea of having your food come to you without you having to leave your home. I see gerobak as a branch of Jakarta’s local culinary arts. Not only do they serve people fast and good food, they have also become one of my city’s cultural icons.

So, for those who still ask me about the terrible traffic jams back home, don’t worry. You’ll never go hungry with our gerobak culture in my country. Open your window and wave to them. In a split second they will serve you kacang rebus, pisang goreng, tahu goring or anything you want to munch on while killing time. Awesome indeed. 

Share +
01st
June

“Stand Out: Sebuah Perspektif”
Waktu pertama kali gw disuruh nulis tentang ‘stand out’, gw sendiri agak bingung dengan definisi kata itu sendiri. Dari sisi translasi, stand out bisa diterjemahkan sebagai sifat suatu benda yang lebih mudah dikenali, lebih menonjol, atau juga lebih populer di dalam suatu kelompok.
Ibarat seseorang di dalam sebuah komunitas tertentu, istilah ‘stand out’ bisa dilabelkan pada orang yang paling beda, paling gaul, paling berpengaruh, paling aneh, atau paling‐paling lainnya.
Dan tentu saja, sesuatu yang menonjol dari seseorang tersebut pastilah diukur dengan kapasitas yang lebih, jika dibandingkan dengan orang‐orang lain di dalam kumpulan tersebut.
Sebagai seorang desainer grafis, gw sering juga ngumpul sama beberapa kawan sejawat yang lain. Secara garis besar, kita semua sama‐sama menekuni bidang yang sama. Tapi secara natural, pasti ada salah satu diantara kita yang menonjol. Entah karena hasil karya yang lebih menarik, pengalaman yang lebih banyak, atau juga karena ciri khas dalam menghasilkan desain‐desain yang ciamik.
Padahal kalau dipikir‐pikir, kita semua sama‐sama pakai Adobe Creative Suite, sama‐sama ngerti urusan layout, sama‐sama punya akses internet untuk nyari referensi‐referensi desain, dan sama‐sama bicara bahasa rupa. Tapi kenapa pada akhirnya ada yang paling menonjol? Kenapa pada akhirnya ada yang lebih dominan diantara yang lain?
Jawabannya mungkin aja karena ada perbedaan yang ga kelihatan. Ada perbedaan disela‐sela persamaan yang selama ini dilihat. Dan ga semua orang sadar celah‐celah ini. Biasanya orang yang ‘stand out’ lebih cerdik melihat peluang. Ambil aja contoh dari dunia desain itu sendiri. Dari sekian banyak desainer yang ngerti gimana caranya menghasilkan visual yang menarik, ga semuanya paham untuk memaksimalkan hasil karyanya.
Padahal bisa saja, kalau mereka bisa melihat celah‐celah untuk mengawinkan visual dengan elemen yang lain, bisa jadi masing‐masing dari mereka menghasilkan karya yang lebih baik. Sayangnya, hanya beberapa yang berhasil menemukan cara untuk mengoptimalkan hasil karya mereka. Gw sendiri masih belajar banyak untuk hal yang satu itu.
Ini makanya kenapa dari sekian banyak desainer di dunia ini, nama‐nama yang muncul di majalah‐majalah desain ya itu‐itu aja. Desainer yang hasil karyanya dijadikan referensi massa juga itu‐itu aja. Yang lain pada kemana?
Di jaman sekarang, disaat semua orang punya kesempatan yang sama, seharusnya menjadi ‘berbeda’ adalah sebuah tantangan. Dan menjadi beda disini pastinya menjadi seseorang yang ‘lebih’. Di dalam dunia yang gw tekuni, desainer harus punya identitas untuk dikenali. Kalau sekedar jadi desainer sih, semua orang juga bisa. Tapi jadi desainer yang stand out dibutuhkan usaha lebih untuk memompa diri dan berkompetisi dalam hal‐hal positif dengan desainer‐desainer yang lain.
Gw jadi inget satu kutipan yang gw pegang terus sampai hari ini. Kutipan ini gw dapet waktu gw ikut Ad Unplugged tahun 2007 lalu, dimana temanya adalah ‘fearless’ alias ‘ga takut’. Haha. Salah satu pembicaranya, Jeff Orr, bilang kalau ‘knowledge displaces fear’. Dan menurut gw, kutipan ini hardcore banget, cocok buat pegangan anak‐anak muda kayak kita yang sedang berjuang buat masa depan. Asiiiiik.
Kenapa? Dengan pengetahuan, kita bisa mengakali kekurangan‐kekurangan kita. Balik lagi ke dunia desain, jadi desainer bukan sekedar menghasilkan visual yang bagus. Tapi bagaimana menghasilkan visual yang bisa menyampaikan pesan. Dan tentunya sebagai penyampai pesan, seorang desainer harus tahu caranya berkomunikasi. Ini dia yang bikin hasil karya kita ga cuma jadi benda mati.
Dunia kreatif bukan ruang kelas TK yang isinya cuma coretan‐coretan pensil warna. Dunia kreatif adalah stadium terbuka untuk semua orang menunjukkan identitas dirinya, memperkenalkan siapa dia lewat karya‐karyanya. Kalau yang dilihat sama semua, siapa yang bakal tahu kalau si A lebih baik daripada si B? Pengetahuan pun akhirnya memegang peranan penting. Seseorang yang dibekali dengan ilmu dan juga mampu menggunakan pengetahuannya, pastinya akan menjadi seseorang yang ‘stand out’ dan dikenali. Modalnya cuma satu, ilmu.
Karena pada akhirnya, beda otak beda gaya. Makanya, ayo kita sama‐sama ngebenerin mesin mogok di dalam diri kita yang kadang‐kadang ogah kalo diajak kompetisi, yang kadang‐kadang ogah sama yang namanya improvisasi. Jangan cuma menang di nyentrik doang. Semua orang bisa menonjol dan menjadi pionir bukan karena faktor alam. Tapi karena kemauan diri untuk bersaing dan berani menunjukkan identitas dirinya.
Udah ah. Yuk, kita maju sama‐sama.

“Stand Out: Sebuah Perspektif”

Waktu pertama kali gw disuruh nulis tentang ‘stand out’, gw sendiri agak bingung dengan definisi kata itu sendiri. Dari sisi translasi, stand out bisa diterjemahkan sebagai sifat suatu benda yang lebih mudah dikenali, lebih menonjol, atau juga lebih populer di dalam suatu kelompok.

Ibarat seseorang di dalam sebuah komunitas tertentu, istilah ‘stand out’ bisa dilabelkan pada orang yang paling beda, paling gaul, paling berpengaruh, paling aneh, atau paling‐paling lainnya.

Dan tentu saja, sesuatu yang menonjol dari seseorang tersebut pastilah diukur dengan kapasitas yang lebih, jika dibandingkan dengan orang‐orang lain di dalam kumpulan tersebut.

Sebagai seorang desainer grafis, gw sering juga ngumpul sama beberapa kawan sejawat yang lain. Secara garis besar, kita semua sama‐sama menekuni bidang yang sama. Tapi secara natural, pasti ada salah satu diantara kita yang menonjol. Entah karena hasil karya yang lebih menarik, pengalaman yang lebih banyak, atau juga karena ciri khas dalam menghasilkan desain‐desain yang ciamik.

Padahal kalau dipikir‐pikir, kita semua sama‐sama pakai Adobe Creative Suite, sama‐sama ngerti urusan layout, sama‐sama punya akses internet untuk nyari referensi‐referensi desain, dan sama‐sama bicara bahasa rupa. Tapi kenapa pada akhirnya ada yang paling menonjol? Kenapa pada akhirnya ada yang lebih dominan diantara yang lain?

Jawabannya mungkin aja karena ada perbedaan yang ga kelihatan. Ada perbedaan disela‐sela persamaan yang selama ini dilihat. Dan ga semua orang sadar celah‐celah ini. Biasanya orang yang ‘stand out’ lebih cerdik melihat peluang. Ambil aja contoh dari dunia desain itu sendiri. Dari sekian banyak desainer yang ngerti gimana caranya menghasilkan visual yang menarik, ga semuanya paham untuk memaksimalkan hasil karyanya.

Padahal bisa saja, kalau mereka bisa melihat celah‐celah untuk mengawinkan visual dengan elemen yang lain, bisa jadi masing‐masing dari mereka menghasilkan karya yang lebih baik. Sayangnya, hanya beberapa yang berhasil menemukan cara untuk mengoptimalkan hasil karya mereka. Gw sendiri masih belajar banyak untuk hal yang satu itu.

Ini makanya kenapa dari sekian banyak desainer di dunia ini, nama‐nama yang muncul di majalah‐majalah desain ya itu‐itu aja. Desainer yang hasil karyanya dijadikan referensi massa juga itu‐itu aja. Yang lain pada kemana?

Di jaman sekarang, disaat semua orang punya kesempatan yang sama, seharusnya menjadi ‘berbeda’ adalah sebuah tantangan. Dan menjadi beda disini pastinya menjadi seseorang yang ‘lebih’. Di dalam dunia yang gw tekuni, desainer harus punya identitas untuk dikenali. Kalau sekedar jadi desainer sih, semua orang juga bisa. Tapi jadi desainer yang stand out dibutuhkan usaha lebih untuk memompa diri dan berkompetisi dalam hal‐hal positif dengan desainer‐desainer yang lain.

Gw jadi inget satu kutipan yang gw pegang terus sampai hari ini. Kutipan ini gw dapet waktu gw ikut Ad Unplugged tahun 2007 lalu, dimana temanya adalah ‘fearless’ alias ‘ga takut’. Haha. Salah satu pembicaranya, Jeff Orr, bilang kalau ‘knowledge displaces fear’. Dan menurut gw, kutipan ini hardcore banget, cocok buat pegangan anak‐anak muda kayak kita yang sedang berjuang buat masa depan. Asiiiiik.

Kenapa? Dengan pengetahuan, kita bisa mengakali kekurangan‐kekurangan kita. Balik lagi ke dunia desain, jadi desainer bukan sekedar menghasilkan visual yang bagus. Tapi bagaimana menghasilkan visual yang bisa menyampaikan pesan. Dan tentunya sebagai penyampai pesan, seorang desainer harus tahu caranya berkomunikasi. Ini dia yang bikin hasil karya kita ga cuma jadi benda mati.

Dunia kreatif bukan ruang kelas TK yang isinya cuma coretan‐coretan pensil warna. Dunia kreatif adalah stadium terbuka untuk semua orang menunjukkan identitas dirinya, memperkenalkan siapa dia lewat karya‐karyanya. Kalau yang dilihat sama semua, siapa yang bakal tahu kalau si A lebih baik daripada si B? Pengetahuan pun akhirnya memegang peranan penting. Seseorang yang dibekali dengan ilmu dan juga mampu menggunakan pengetahuannya, pastinya akan menjadi seseorang yang ‘stand out’ dan dikenali. Modalnya cuma satu, ilmu.

Karena pada akhirnya, beda otak beda gaya. Makanya, ayo kita sama‐sama ngebenerin mesin mogok di dalam diri kita yang kadang‐kadang ogah kalo diajak kompetisi, yang kadang‐kadang ogah sama yang namanya improvisasi. Jangan cuma menang di nyentrik doang. Semua orang bisa menonjol dan menjadi pionir bukan karena faktor alam. Tapi karena kemauan diri untuk bersaing dan berani menunjukkan identitas dirinya.

Udah ah. Yuk, kita maju sama‐sama.

Share +
01st
June

“Amsterdam: Kota Kreatif Penuh Inspirasi”
Sebagai seorang pekerja seni, sebuah ruang memiliki peranan penting untuk dapat terus berkarya. Ruang disini bukan hanya sebuah kamar yang diisi penuh oleh gambar, tetapi ruang yang membebaskan setiap individu kreatif untuk bergerak dan menyalurkan ekspresinya melalui beragam jenis seni. Ruang yang setiap pergerakan di dalamnya menghasilkan pemikiran-pemikiran baru, ruang yang setiap isi di dalamnya adalah inspirasi. Lalu ruang semacam apa yang dapat menampung segala sumber inspirasi? Saya sendiri mengartikan “kota” sebagai terjemahan untuk kata tersebut.
Kalau ada satu kota di dunia ini yang menjadi kiblat saya tentang ruang untuk berekpresi, Amsterdam selalu menjadi jawaban saya. Ibukota negeri Kincir Angin ini dipotret sebagai salah satu kota kreatif di dunia yang terus berkembang. Bahkan kota ini menjadikan kekuatan kreatif yang multikultur sebagai salah satu aset ekonomi penting untuk negara mereka. 
Perkembangan desain-desain kreatif di Belanda banyak menginspirasi saya. Salah satunya adalah eating designer bernama Marije Vogelzang, yang membuka wacana baru tentang integrasi makanan dan seni yang dikemas secara artistik. Saya juga cukup beruntung pernah bertemu dengan dua seniman grafitti Sit + Morky dari Street Amsterdam di tahun 2007 saat mereka berkunjung ke Kuala Lumpur. Setelah mendengar cerita tentang proses kreatif dua seniman ini di negaranya, saya pun mulai membangun mimpi untuk bisa melanjutkan pendidikan di Belanda suatu hari nanti.
Dengan profesi saya sebagai seorang desainer grafis, kawan-kawan saya yang kebetulan berada di Belanda kerap berbagi cerita bagaimana pemerintah kota di negara itu memberikan dukungan kepada para pekerja seninya, dengan memberikan ruang yang relatif terjangkau. Banyak yang menyarankan saya untuk melanjutkan pendidikan S2 di negara itu, agar dapat merasakan sendiri energi kreatif kota tersebut. Saya juga sempat mendengar dari mereka tentang adanya pembentukan Bureau Broedplaatsen di Amsterdam yang dibentuk untuk memantau gedung-gedung yang disewakan bagi para pekerja kreatif sebagai studio untuk berkarya. Wah, itu baru namanya dukungan nyata.
Berbicara tentang Belanda, satu hal yang juga mencuri perhatian saya adalah city branding yang dilakukan pemerintah terhadap ibukotanya, yakni I amsterdam. Saya melihat jargon itu bukan hanya sebuah campuran frase yang cukup personal bagi para penduduknya, tetapi juga sebuah manifesto kebanggaan dimana setiap individu yang berada di dalamnya dihargai atas segala kontribusinya, baik itu melalui bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
Selain city branding yang memukau, salah satu sinergi kreatif kota ini yang cukup menarik perhatian saya adalah sebuah projek musik bernama Amsterdam Acoustic.Projek bermusik ini baru saja dimulai di tengah tahun 2009. Apa yang menarik? Yang menarik adalah ide anak-anak mudanya untuk menyuguhkan musisi-musisi ternama yang bermain secara akustik dimana setiap sudut kota Amsterdam menjadi latar belakang setiap video yang mereka rekam. Ini artinya, aset sinematografi mereka adalah keindahan kota mereka sendiri! Menarik sekali ya idenya, bisa kita contoh untuk menggalakan pariwisata negara kita.
Apa yang saya tulis diatas adalah sedikit dari sekian hal yang membuat saya pribadi selalu bermimpi untuk bisa ke Belanda dan melanjutkan S2 di bidang seni di salah satu bagian negaranya. Dengan kekayaan kultur yang diimbangi dengan infrastruktur yang inovatif, Belanda dapat menjadi acuan untuk juga menciptakan kota kreatif di tempat-tempat lain. Kalau mau berkaca pada negara sendiri, Indonesia memiliki jutaan insan kreatif (yang disadari atau tidak) adalah aset dasar pembentukan kota kreatif. Pemerintah hanya perlu menyadari potensi ini dan memberikan ‘ruang’ untuk berkembang. Bisa jadi kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Bali, Balikpapan dan kota-kota lainnya dapat juga bersinergi seperti Amsterdam, The Hague, Enschede, atau Eindhoven.
Lalu dimulai darimana?
Bukan dengan menanam tulip pastinya, hehe. Yang paling utama, teman-teman kreatif bisa dibantu dengan penyediaan public space untuk berkarya. Dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan art events yang melibatkan partisipasi publik juga bisa menjadi langkah dasar untuk menggali potensi yang lebih luas. Siapa tahu Indonesia suatu hari bisa memiliki pameran seni seperti Art Amsterdam, sehingga suatu hari destinasi insan kreatif tidak harus jauh-jauh ke Eropa, melainkan ke tanah airnya sendiri.
Ayo, kawan-kawan kreatif, kita bergerak menciptakan ruang sendiri. Dan mudah-mudahan kalau saya bisa ke Amsterdam nanti, sepulangnya dari sana saya bisa membawa pulang oleh-oleh inspirasi.  

“Amsterdam: Kota Kreatif Penuh Inspirasi”

Sebagai seorang pekerja seni, sebuah ruang memiliki peranan penting untuk dapat terus berkarya. Ruang disini bukan hanya sebuah kamar yang diisi penuh oleh gambar, tetapi ruang yang membebaskan setiap individu kreatif untuk bergerak dan menyalurkan ekspresinya melalui beragam jenis seni. Ruang yang setiap pergerakan di dalamnya menghasilkan pemikiran-pemikiran baru, ruang yang setiap isi di dalamnya adalah inspirasi. Lalu ruang semacam apa yang dapat menampung segala sumber inspirasi? Saya sendiri mengartikan “kota” sebagai terjemahan untuk kata tersebut.

Kalau ada satu kota di dunia ini yang menjadi kiblat saya tentang ruang untuk berekpresi, Amsterdam selalu menjadi jawaban saya. Ibukota negeri Kincir Angin ini dipotret sebagai salah satu kota kreatif di dunia yang terus berkembang. Bahkan kota ini menjadikan kekuatan kreatif yang multikultur sebagai salah satu aset ekonomi penting untuk negara mereka. 

Perkembangan desain-desain kreatif di Belanda banyak menginspirasi saya. Salah satunya adalah eating designer bernama Marije Vogelzang, yang membuka wacana baru tentang integrasi makanan dan seni yang dikemas secara artistik. Saya juga cukup beruntung pernah bertemu dengan dua seniman grafitti Sit + Morky dari Street Amsterdam di tahun 2007 saat mereka berkunjung ke Kuala Lumpur. Setelah mendengar cerita tentang proses kreatif dua seniman ini di negaranya, saya pun mulai membangun mimpi untuk bisa melanjutkan pendidikan di Belanda suatu hari nanti.

Dengan profesi saya sebagai seorang desainer grafis, kawan-kawan saya yang kebetulan berada di Belanda kerap berbagi cerita bagaimana pemerintah kota di negara itu memberikan dukungan kepada para pekerja seninya, dengan memberikan ruang yang relatif terjangkau. Banyak yang menyarankan saya untuk melanjutkan pendidikan S2 di negara itu, agar dapat merasakan sendiri energi kreatif kota tersebut. Saya juga sempat mendengar dari mereka tentang adanya pembentukan Bureau Broedplaatsen di Amsterdam yang dibentuk untuk memantau gedung-gedung yang disewakan bagi para pekerja kreatif sebagai studio untuk berkarya. Wah, itu baru namanya dukungan nyata.

Berbicara tentang Belanda, satu hal yang juga mencuri perhatian saya adalah city branding yang dilakukan pemerintah terhadap ibukotanya, yakni I amsterdam. Saya melihat jargon itu bukan hanya sebuah campuran frase yang cukup personal bagi para penduduknya, tetapi juga sebuah manifesto kebanggaan dimana setiap individu yang berada di dalamnya dihargai atas segala kontribusinya, baik itu melalui bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Selain city branding yang memukau, salah satu sinergi kreatif kota ini yang cukup menarik perhatian saya adalah sebuah projek musik bernama Amsterdam Acoustic.Projek bermusik ini baru saja dimulai di tengah tahun 2009. Apa yang menarik? Yang menarik adalah ide anak-anak mudanya untuk menyuguhkan musisi-musisi ternama yang bermain secara akustik dimana setiap sudut kota Amsterdam menjadi latar belakang setiap video yang mereka rekam. Ini artinya, aset sinematografi mereka adalah keindahan kota mereka sendiri! Menarik sekali ya idenya, bisa kita contoh untuk menggalakan pariwisata negara kita.

Apa yang saya tulis diatas adalah sedikit dari sekian hal yang membuat saya pribadi selalu bermimpi untuk bisa ke Belanda dan melanjutkan S2 di bidang seni di salah satu bagian negaranya. Dengan kekayaan kultur yang diimbangi dengan infrastruktur yang inovatif, Belanda dapat menjadi acuan untuk juga menciptakan kota kreatif di tempat-tempat lain. Kalau mau berkaca pada negara sendiri, Indonesia memiliki jutaan insan kreatif (yang disadari atau tidak) adalah aset dasar pembentukan kota kreatif. Pemerintah hanya perlu menyadari potensi ini dan memberikan ‘ruang’ untuk berkembang. Bisa jadi kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Bali, Balikpapan dan kota-kota lainnya dapat juga bersinergi seperti Amsterdam, The Hague, Enschede, atau Eindhoven.

Lalu dimulai darimana?

Bukan dengan menanam tulip pastinya, hehe. Yang paling utama, teman-teman kreatif bisa dibantu dengan penyediaan public space untuk berkarya. Dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan art events yang melibatkan partisipasi publik juga bisa menjadi langkah dasar untuk menggali potensi yang lebih luas. Siapa tahu Indonesia suatu hari bisa memiliki pameran seni seperti Art Amsterdam, sehingga suatu hari destinasi insan kreatif tidak harus jauh-jauh ke Eropa, melainkan ke tanah airnya sendiri.

Ayo, kawan-kawan kreatif, kita bergerak menciptakan ruang sendiri. Dan mudah-mudahan kalau saya bisa ke Amsterdam nanti, sepulangnya dari sana saya bisa membawa pulang oleh-oleh inspirasi.  

Share +
01st
June
“Refleksi 65: Merdekakah Kita Sebagai Insan Kreatif?” 
Saya rasa, tidak semua orang kreatif itu merdeka. Ada yang punya ide, tapi terpenjara rasa takut untuk bersuara. Ada yang punya nyaliuntuk membawa pendapatnya ke meja presentasi, tapi kobaran itu nyaring kosong tanpa isi. Ada yang punya keinginan menghasilkan karya untuk orang banyak, tapi dibatasi oleh keadaan, tekanan ekonomi, tekanan pergaulan, limitasi koneksi. Ada juga orang kreatif muda yang ide-idenyanya diperas habis-habisan. Ada yang karyanya cuma dijadikan bahan celaan. Ada yang sibuk ribut soal orisinalitas karya. Ada yang didiskriminasi rumah-rumah kreatif. Ada yang memilih bunuh diri ketika karyanya tidak sempurna. Ada yang sibuk berpolitik kreatif menjegal kawan sejawat. Ada yang jadi korban, ada yang cuma bisa ketawa di belakang. ada yang sibuk merasa hebat, merasa kerjaannya paling dahsyat.
Kita terlalu bangga menjadi seniman yang berpura-pura merdeka. Merasa paling boleh nyeleneh seenaknya tanpa harus menjawab apa-apa kalau ditanya orang awam, “kok gondrong? kok aneh? kok ga nyambung?”. Kita mematisurikan kreatifitas pelan-pelan dengan berhenti membaca, berhenti peka, tapi menerapkan eksekusi orang lain terhadap karya kita. Kita jadi hilang identitas. Bahkan rupa tidak bisa membuat kita dikenali lebih jauh.
Kita didera ketakutan berlebih ketika kita kebetulan memikirkan ide yang sama. Sibuk berpikir ide kita diambil orang. Padahal ide itu milik orang banyak. Bahkan bisa jadi ide itu milik Tuhan. Kita mungkin kurang merdeka menghadapi keragaman pikir yang menjadikan masing-masing dari kita insan kreatif. Kita kurang merdeka untuk belajar lebih banyak dari orang lain. Kita kurang merdeka untuk bisa buka mata dan buka telinga.
Mungkin karena tidak semua orang kreatif itu tahu caranya melepas ego yang menjajahnya. Kamu mungkin lebih tahu, jauh lebih paham. Tapi orang seperti saya masih harus terus belajar. Seperti yang pernah art director saya bilang, “What makes you a creative person is not just a good artwork, but a great thought behind your doodle. That’s your defense. your thought on your artwork, is your freedom.” 
Semoga refleksi kemerdekaan hari ini membuat ide-ide panjang umur dan terus berkarya, sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan mereka yang membuat kita dapat leluasa berkreasi hari ini. Dirgahayu Indonesia, sudah saatnya semua insan kreatif di negeri kita merayakan kemerdekaannya.

“Refleksi 65: Merdekakah Kita Sebagai Insan Kreatif?”

Saya rasa, tidak semua orang kreatif itu merdeka. Ada yang punya ide, tapi terpenjara rasa takut untuk bersuara. Ada yang punya nyaliuntuk membawa pendapatnya ke meja presentasi, tapi kobaran itu nyaring kosong tanpa isi. Ada yang punya keinginan menghasilkan karya untuk orang banyak, tapi dibatasi oleh keadaan, tekanan ekonomi, tekanan pergaulan, limitasi koneksi. Ada juga orang kreatif muda yang ide-idenyanya diperas habis-habisan. Ada yang karyanya cuma dijadikan bahan celaan. Ada yang sibuk ribut soal orisinalitas karya. Ada yang didiskriminasi rumah-rumah kreatif. Ada yang memilih bunuh diri ketika karyanya tidak sempurna. Ada yang sibuk berpolitik kreatif menjegal kawan sejawat. Ada yang jadi korban, ada yang cuma bisa ketawa di belakang. ada yang sibuk merasa hebat, merasa kerjaannya paling dahsyat.

Kita terlalu bangga menjadi seniman yang berpura-pura merdeka. Merasa paling boleh nyeleneh seenaknya tanpa harus menjawab apa-apa kalau ditanya orang awam, “kok gondrong? kok aneh? kok ga nyambung?”. Kita mematisurikan kreatifitas pelan-pelan dengan berhenti membaca, berhenti peka, tapi menerapkan eksekusi orang lain terhadap karya kita. Kita jadi hilang identitas. Bahkan rupa tidak bisa membuat kita dikenali lebih jauh.

Kita didera ketakutan berlebih ketika kita kebetulan memikirkan ide yang sama. Sibuk berpikir ide kita diambil orang. Padahal ide itu milik orang banyak. Bahkan bisa jadi ide itu milik Tuhan. Kita mungkin kurang merdeka menghadapi keragaman pikir yang menjadikan masing-masing dari kita insan kreatif. Kita kurang merdeka untuk belajar lebih banyak dari orang lain. Kita kurang merdeka untuk bisa buka mata dan buka telinga.

Mungkin karena tidak semua orang kreatif itu tahu caranya melepas ego yang menjajahnya. Kamu mungkin lebih tahu, jauh lebih paham. Tapi orang seperti saya masih harus terus belajar. Seperti yang pernah art director saya bilang, “What makes you a creative person is not just a good artwork, but a great thought behind your doodle. That’s your defense. your thought on your artwork, is your freedom.” 

Semoga refleksi kemerdekaan hari ini membuat ide-ide panjang umur dan terus berkarya, sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan mereka yang membuat kita dapat leluasa berkreasi hari ini. Dirgahayu Indonesia, sudah saatnya semua insan kreatif di negeri kita merayakan kemerdekaannya.

Share +

“Uang” 

Uang. Semua tentang uang. Entah siapa yang menciptakan uang pertama kali. Entah mengapa pula sistem barter harus mengalami transformasi formal dalam bentuk material bernilai nominal. Entah kenapa uang mampu membuat manusia terbangun di pagi buta dan kemudian merelakan waktu tidurnya diambil masa di malam hari. Uang mampu membuat manusia menjadi robot‐robot kecil yang secara sistematis tersesat di labirin matematika, yang tidak lelah bermain angka dan menghitung keuntungan‐keuntungan ganda.

Uang. Semua tentang uang. Kita semua berada dalam material angka yang tidak kasat mata. Uang menjadi obat bagi yang sakit. Uang menjadi derma bagi mereka yang pelik. Uang menjadi sarana yang sama bagi pribadi‐pribadi dari golongan yang berbeda. Entah mengapa.

Uang. Semua tentang uang. Uang menjelma menjadi setiap benda yang pernah terbersit dalam benak kita semua. Uang menjadi objek vital ketika berdoa. Uang secara sistematis menjadi totem pro parte untuk sebuah kata bernama ‘rezeki’, mengacuhkan cinta, kesehatan, serta luasnya kebahagiaan yang hakiki. Uang juga mengambil banyak makna dalam kamus harian kita, mengubahnya menjadi sekedar materi, sampai menjadikan diri kita menjadi bilangan yang bisa dijual beli. Kepercayaan, kesetiaan, ketulusan, atau semua sifat baik di bilik aset kepribadian menjadi sesuatu yang harus dibayar mahal. Sebaliknya kejahatan, kekecewaan, kemunafikan, serta ketidakseimbangan moral adalah barang‐barang obral. Dengan uang seadanya, manusia memilih untuk membeli apa yang diinginkan, tentunya sesuai dengan kebutuhan yang (kini) tidak (perlu) lagi dipertimbangkan.

Uang dan lagi‐lagi tentang uang. Saya tidak pernah merasa benar‐benar mengenalnya sampai akhirnya saya harus bekerja, merasakan betapa susahnya mengumpulkan lembaran‐lembaran itu di dalam keseharian. Bekerja pagi dan malam hanya untuk memenuhi kebutuhan‐kebutuhan standar, sekedar untuk bisa makan, bisa membeli hiburan, atau berburu rasa aman paling tidak dengan memiliki tabungan atau simpanan lebih setiap bulan. Tapi uang yang saya tahu tidak sebaik yang saya tahu. Lembaran‐lembaran uang itu tidak membuat saya lebih bahagia, dan tidak juga singgah di dalam rekening untuk waktu yang sangat lama untuk menghabiskan waktu bersama‐sama.

Berteman dengan uang memerlukan pengertian. Ketamakkan membuat uang pergi begitu cepat. Menyimpannya terlalu erat membuat hati tidak karuan dililit pelit yang membuat hati miris dari hari ke hari. Uang menjembatani peran kaya dan miskin, uang membentangkan kain kesenjangan sosial dimana jumlah harta setiap dari diri kita berbeda‐beda.

Uang dan segala yang berkaitan dengannya adalah absurditas dengan opini‐opini bias dari setiap mereka yang memerlukannya. Sejatinya uang sebagai akar dari segala eksistensi di muka bumi, seharusnya uang menjadi permainan ular tangga dengan jumlah ular yang lebih banyak daripada tangganya sendiri. Karena itu, manusia hanya perlu semakin licik, semakin pintar, semakin berusaha, semakin sengit, semakin mengerti, semakin bijak untuk berhadapan dengan uang.

Ironis.

Share +

Natural Food Dyes and Colourings

Food dyes or food colourings is not a new thing. It’s been done many times before to indicate types of flavour, degrees of sweetness, ripeness, or decay. However, people have contrived to add or change the natural colour in foods from very early times and for a variety of reasons - for aesthetic purposes, to increase appetite appeal, for symbolic effect, and of course to make a less desirable food seems more desirable.

It’s always fun to do food dyes, plus it’s easy because basic food colourings usually derive from simple sources. For example, dragon fruit is known to produce a deep and thick purple, chillies emit a reddish orange tinge, turmeric and oranges create beautiful tones of yellow, pandan leaves give you green and bunga lawang unsurprisingly produces a vibrant bluish colour. 

When I thought of this article, I wondered how to take it to the next level and indicate the colours produced on-screen. The idea was really simple. With a handy help from my intern, we used rice grains to extract 5 (five) substances- green, blue, yellow, purple and orange.

The next step is to get the colour code for each colour. By using Adobe Photoshop, I extracted each tint into RGB conversion see we can use it in future for graphic design. It doesn’t take a long time to define them, and voila! Now we have our own natural food coloring code in RGB mode! 

Share +

Mekanisme Jatuh Cinta

 

“Kita berdua hanya berpegangan tangan, tak perlu berpelukan. Kita berdua hanya saling bercerita, tak perlu memuji. Kita berdua tak pernah ucapkan maaf, tapi saling mengerti. Kita berdua tak hanya menjalani cinta, tapi menghidupi. Ketika rindu menggebu-gebu, kita menunggu, jatuh cinta itu biasa saja. Saat cemburu kian membelenggu, cepat berlalu, jatuh cinta itu biasa saja. Jika jatuh cinta itu buta, berdua kita akan tersesat, saling mencari di dalam gelap. Kedua mata kita gelap, lalu hati kita gelap, lalu hati kita gelap. Kita, jatuh cinta itu biasa saja…”

(Efek Rumah Kaca – Jatuh Cinta Itu Biasa Saja)

Kutipan diatas adalah sebuah lagu cinta, mungkin lagu cinta terbaik yang pernah saya dengar. Dengan rangka kalimat yang sederhana, saya merasa sedang mendapat sebuah kesimpulan paling logis yang bisa menetralisasi gamangnya pengertian saya akan cinta, juga aktivitas-aktivitas yang mengikutinya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa selama ini cerita romantis adalah gizi bagi banyak pribadi melankolis. Kisah cinta yang membara dan diwarnai oleh pengorbanan ekstrim, suka dan duka adalah kerangka sastra yang membuai para pembacanya. Kekuatan yang sedemikian dahsyat pun bersifat kosmis dan universal, menjadikan setiap insan yang memujanya insan‐insan pencinta. Dan tentunya tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, kadang cinta dinilai terlalu emosional sehingga manusia mengacuhkan sisi logis daripada cinta itu sendiri. Jatuh cinta adalah salah satu proses kimiawi dimana reaksinya menjadi mekanisme paling substansial dalam peradaban kita. Setidaknya, bagi saya pribadi, cinta menempati ruang sendiri dalam kotak‐kotak penuh tanya dalam diri ini.

Saya pernah mengalami fase-fase dimana saya berusaha menyatukan keterkaitan emosi dengan orang lain, namun fase-fase di usia belasan itu tidak pernah membawa saya pada titik tumpu itu. Saya membutuhkan waktu cukup lama semenjak saya mengenal rasa suka sampai pada akhirnya saya merasa bahwa ya, saya sedang jatuh cinta setelah sekian lama. Sekali. Jatuh cinta yang tidak saya minta kedatangannya, disaat usia saya memasuki 23 tahun.

Seiring dengan berjalannya waktu, tanpa benar‐benar mengetahui definisi cinta, saya terpaksa mengalah pada kenyataan bahwa apa yang saya rasakan adalah percikan kekuatan kosmis yang mengiris emosi dan logika manusia. Semenjak saat itu, yang saya tahu, saya memang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta dengan individu kesekian, namun untuk pertama kali, tanpa banyak pertimbangan.

Saya mencari tahu, mencari pembenaran, mencari acuan atas degup kencang tanpa aturan setiap kali saya memandang sepasang mata teduh yang ditopang rahang wajahnya yang tajam. Saya mencari jawaban, mencari alasan, mencari sebab dari gemetarnya kaki ini saat saya berjalan disampingnya, menghitung langkah-langkahnya. Saya mencari dukungan, mencuri kemungkinan, mencuri keabsahan dari khawatir tidak karuan terhadap dirinya setiap kali kami berada dalam jarak yang berjauhan. Saya tidak keberatan dengan efek samping dari jatuh cinta, jika saja ada. Tapi saya memilih untuk mengetahui posibilitas dari banyaknya ‘kegilaan’ yang saya alami terhadapnya.

Ternyata, saat manusia memandang seseorang yang dicintainya, bagian otak yang berhubungan dengan imbalan dan kesenangan yakni bagian ventral tegmental dan caudate nucleus menyala. Secara kimiawi, perasaan ‘cinta’ menyalakan caudate nucleus karena merupakan pangkalan yang sarat dengan saraf penerima yang menyebar untuk pemancar saraf yang disebut dopamine – sebagai ramuan cinta yang tumbuh sendiri di dalam tubuh. Dalam dosis yang tepat, dopamine menciptakan kekuatan, kegembiraan, perhatian yang terpusat, serta dorongan untuk mendapat imbalan.

Inilah yang menyebabkan saat baru jatuh cinta, manusia dapat terjaga sepanjang malam, memandangi detail di sekitarnya, serta mampu melakukan hal‐hal yang biasanya terasa melampaui kemampuan kita. Hasil dari reaksi kimiawi yang dialami oleh cinta dapat membuat manusia mampu menempuh resiko besar yang kadang‐kadang tidak mungkin untuk diatasi. Benar‐benar ekstraksi yang semakin membuat saya merasa ‘tidak bersalah’ atas perasaan jatuh cinta yang pernah saya alami, walaupun baru pertama kali.

Seorang psikiatri bernama Donatella Marazitti pernah meneliti tentang adanya aspek biokimia dalam cinta. Dia mencari persamaan antara jatuh cinta dengan gangguan obsesif‐kompulsif. Penelitian ini bertumpu pada acuan komposisi serotonine dalam darah manusia yang sedang merasakan indahnya jatuh cinta selama 6 bulan terakhir dan terobsesi pada cinta minimal 4 jam sehari. Serotonine adalah bintang pemancar saraf manusia, yang saling berganti peran dengan bintang obat psikiatri sejenis Prozac, Zoloft, dan Paxil.

Mengacu pada gangguan obsesif‐kompulsif (OCD), para penderitanya disinyalir mengalami ketidakseimbangan serotonine. Obat seperti Prozac nampaknya mengurangi OCD dengan menaikkan jumlah pemancar saraf yang ada pada titik temu antarneuron. Dengan membandingkan jumlah kadar serotonine antara orang yang sedang jatuh cinta dan orang yang mengalami OCD, ternyata kadar serotonine keduanya sama‐sama 40% lebih rendah ketimbang kadar zat ini pada orang normal. Ya, penelitian tersebut memungkinkan penarikan kesimpulan bahwa cinta dan gangguan obsesif‐kompulsif memiliki ciri kimiawi yang serupa. Jelas, cinta dan gangguan jiwa mungkin sulit dibedakan. Wajar, kalau cinta bisa membuat seseorang menjadi gila.

Secara logis, bukankah wajar apa yang saya rasakan saat ini? Saya ingat bagaimana saya tidak berhenti‐berhentinya bertanya mengapa saya melakukan tindakan A dan B terhadap seseorang yang sedang saya cintai ini, sedangkan tidak pernah terpikir oleh saya untuk bisa melakukan hal tersebut, bahkan hampir kepada siapapun. Saya mulai mengerti mengapa setiap hal kecil di sekitar saya menjadi sedemikian berarti, bahkan saya mulai terbiasa dengan rasa nyeri di salah satu ruang dibelakang rusuk ini. ‘Kegilaan’ saya terhadapnya membuat saya tidak bisa tidur selama hampir satu tahun, dan selama itulah kadar serotonine ini berada di luar kemampuan saya untuk mengawalnya.

Pengawalan. Bisa jadi itu satu‐satunya kata yang tepat untuk menjadi tameng bagi cinta yang luar biasa. Mengawal perasaan cinta seperti menggembala ternak kembali pada barisannya yang teratur, sebuah sistematika yang membantu terciptanya kestabilan emosi. Bisa jadi lagi, cinta yang terkawal dengan baik adalah cinta yang membuat manusia bisa bahagia tanpa nyeri‐nyeri di dalam hati.

Dengan mendengar lagu yang sama untuk kesekian kali, mungkin benar apa yang dinyanyikan oleh Efek Rumah Kaca, bahwasanya jatuh cinta itu biasa saja. Saya suka sekali dengan lirik yang ditulis oleh mereka, dimana penggambaran indahnya jatuh cinta sangat jelas dibandingkan dengan eksploitasi cinta yang relatif berlebihan di dunia kita sekarang. Jatuh cinta telah menjadi sekte baru dalam sebuah hubungan interpersonal, dimana setiap orang dipaksa untuk mengikuti pola percintaan yang tidak mendasar: cinta adalah kambing hitam atas kecemburuan berlebihan, perselingkuhan, penggalan perasaan yang murahan, tidak lebih dari kata yang terdengar picisan.

Sebut saja bagaimana nilai mencintai dan dicintai menjadi nol ketika setiap orang berlebihan menterjemahkannya. Substansial cinta hari ini tidak lagi sama dengan substansi cinta pada zaman‐zaman dahulu. Cinta hari ini adalah komersialitas tanpa tuan yang berubah menjadi angka‐angka nominal, bukan lagi perasaan mendasar yang melapisi hati setiap jiwa. Manusia tidak lagi nyaman dengan cinta. Sebaliknya, cinta menjadi hal yang menakutkan bagi setiap manusia yang ingin berkomitmen, tetapi takut akan ketidakterkawalan cinta itu sendiri, sehingga menjadi bumerang yang berbalik menyerang. Cinta berlebihan benar‐benar membuat manusia menjadi gila pada porsinya masing‐masing.

Namun kini, setelah melewati fase jatuh cinta itu sendiri, bukankah benar bahwa jatuh cinta biasa saja? Bukankah keindahan yang ada di dalamnya lebih terasa ketika cinta berada pada posisi normal, biasa‐biasa saja? Bukankah cinta yang apa adanya menjadi luar biasa ketika dua sinergi ‘biasa’ dan ‘terkontrol’ membuat kisah romantis mereka sendiri dengan sentuhan magis untuk menciptakan cinta yang logis?

Tuhan menuliskan di lembaran kitab-Nya tentang cinta yang diselipkan sebagai bekal keleluasaan penciptaan hamba-hamba-Nya. Kesesuaian etika, keterkaitan emosi dan kerinduan satu jiwa terhadap jiwa lainnya adalah lapisan yang diciptakan untuk menjelaskan bagaimana cinta, sebagaimana hakikatnya adalah rahmat, sebaiknya senantiasa terjaga sehingga keduanya mencapai ketentraman sebagaimana yang dijanjikan.

Mungkin ada baiknya berterima kasih pada yang menitipkan cinta di setiap bilik hati manusia di dunia ini, dengan menjaga kegaiban rasa ini sebaik‐baiknya. Saya tidak mau suatu hari nanti saya tidak bisa mencintai lagi, dan bukan, bukan karena kadar dopamine yang menipis, tapi karena hilangnya kewarasan rasa yang membangkitkan reaksi kimiawi atas senyawa cinta yang ada pada manusia.

Ya, pada diri anda, dan juga saya. 

Share +